Pencarian
Quantum Computing

Dominasi Teknologi Kecerdasan Buatan: Ketika China Melampaui Amerika dalam Lomba AI Global

Pusat inovasi dunia sekarang ini bukan lagi Silicon Valley, melainkan Hangzhou dan Shenzhen. Di mana kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, dan chip neuromorfik tidak lagi menjadi monopoli Amerika Serikat, tapi dipimpin oleh China dengan ciri yang khas: investasi negara, ekosistem terintegrasi, dan fokus pada penerapan riil. Tentu saja ini bukan lagi prediksi, tetapi merupakan kenyataan yang sedang berlangsung saat ini.

Prompter JejakAI
Selasa, 29 Juli 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

China: Dari “Peniru” Menjadi Inovator

Berdasarkan laporan ASPI (Australian Strategic Policy Institute)  Critical Technologies Report (2023), dari periode 2019 – 2023, China telah menjadi pemimpin global dalam 57 dari 64 teknologi frontier, termasuk: 

a. Artificial Intelligence (AI)

b. Quantum Computing

c. Neural Chips (Neuromorphic systems)

d. Quantum-Secure Communication

e. Autonomous Weapons Systems

Sebaliknya, Amerika Serikat hanya memimpin di 7 bidang utama, yang mengindikasikan terjadinya shifting center of technological gravity dari Barat ke Timur.

Baca juga: Sekali Lagi, Tentang Membangun Otak Buatan: Guangdong dan Lompatan Menuju AI Generasi Baru

AI: Arena Perang Paradigma dan Infrastruktur antara AS dan China

AS memimpin teknologi sepert ChatGPT (OpenAI), Gemini (Google DeepMind), dan Claude (Anthropic). Ini  merupakan puncak dari pendekatan AS dalam pengembangan AI: mengutamakan simulasi kognitif, pemrosesan bahasa alami (NLP), reinforcement learning, dan infrastruktur cloud. Namun pendekatan ini sangat elit, berbasis venture capital, dan tidak cukup sistemik. Sedangkan China, cenderung lebih melakukan pendekatan aplikasi sistemik dan energi-efisien. Perusahaan seperti DeepSeek, SenseTime, dan iFlytek justru fokus pada AI yang hemat energi dan modular untuk: kota cerdas (smart cities), pengawasan berbasis computer vision, industri manufaktur otonom, militer berbasis AI. Yang paling penting (ini yang membedakan dengan AS), China mendapat dukungan penuh dari negara dalam membangun: AI superclusters, pusat komputasi nasional, edge-cloud ecosystems.

Lebih jauh China juga memimpin dalam pengembangan Komputasi Kuantum & Neuromorfik yang merupakan Senjata Strategis, meliputi: Quantum Communications (Satelit Micius, adalah:  Quantum Experiments at Space Scale (QUESS) adalah misi satelit Tiongkok pertama yang dirancang khusus untuk melakukan eksperimen fisika kuantum di luar angkasa, dengan tujuan utama mengembangkan teknologi komunikasi kuantum seperti Quantum Key Distribution (QKD) dan teleportasi kuantum ), Quantum Hardware (National Quantum Laboratory dengan dana US$10 miliar), Neuromorphic Computing (Chip mirip neuron biologis yang hemat energi, menyaingi arsitektur von Neumann). Sementara, Amerika tertinggal karena tekanan politik domestik dan fragmentasi institusional.

Baca juga: AI Next Generation: Perebutan Dominasi antara China dan Amerika Serikat

Distribusi Global: Apa Kata Ekonomi?

Dalam artikel Rod Tyers (2024) di Asian Economic Journal, dijelaskan simulasi makroekonomi atas rivalitas ini:

Dampak Rivalitas Teknologi

Amerika Serikat

China

ASEAN / Global South

Output teknologi

Menurun (3–5%)

Meningkat

Meningkat (netral)

Akses pasar

Terbatas (ekspor dicegah)

Pasar domestik meluas

Diperbutkan kedua blok

Investasi Teknologi

Bergantung ke privat

Terpusat oleh negara

FDI masuk besar

Distribusi pendapatan

Cenderung stagnan

Relatif lebih merata

Potensial ketimpangan


Tyers menyebut rivalitas ini sebagai bentuk bifurkasi teknologi global, menciptakan dua kubu, antara Blok Barat (AS, Jepang, EU, Korea) dengan Blok Timur(China, Rusia, Asia Tengah).

Berikut adalah perbandingan model Inovasi antara: Silicon Valley vs Hangzho

Aspek

Amerika Serikat

China

Pendekatan Inovasi

Venture Capital, Startup

Negara-sentris, Top-down

Fokus Teknologi

LLMs, Chatbot, NLP

Industrial AI, Real-world Integration

Infrastruktur

Cloud, API

AI Superclusters, Edge-Cloud

Institusi

Swasta / Universitas elite

Universitas nasional + industri

Kebijakan Publik

Minimal regulasi

Insentif fiskal, arah strategis nasional


AI dan Ekonomi Politik Global

AI bukan lagi semata teknologi, melainkan menjadi “technostrategic tool” — alat dominasi dalam ranah militer, ekonomi, bahkan budaya. Maka tak heran jika China menganggap AI sebagai strategic enabler setara dengan nuklir dan energi.  Dalam arena ini, AS tidak lagi tak tertandingi, dan China tidak lagi hanya “meniru”. Ia sekarang menciptakan teknologi frontier yang berdampak global.

Jika kita tidak memahami pergeseran ini, maka kita tidak hanya kehilangan teknologi — tapi juga arah masa depan.

Referensi 

Tyers, R., & Zhou, Y. (2024). Tech wars: Distributional consequences of global tech rivalry. Asian Economic Journal, 38. https://doi.org/10.1111/asej.12335

Wilson, S. (2025). China Takes the Lead in the Global AI Tech Race. Xinhua Global Tech Report.






Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard